Kamis, 12 Maret 2015

Essay Berdasarkan Film "Babies"

BABIES: KETIKA IBU DAN BAYI BERKOMUNIKASI
(SEBUAH REVIEW DAN KETERKAITAN ANTARA TRANSMISI BUDAYA DALAM PERKEMBANGAN BAHASA PADA ANAK)

Film “Babies” menceritakan tentang perkembangan bayi yang baru lahir di empat tempat berbeda dan dengan dua budaya yang berbeda, yaitu budaya masyarakat industrial-modern di Tokyo, Jepang dan San Fransisco, Amerika Serikat dengan masyarakat agrikultur-tradisional di Namibia, Afrika dan Mongolia. Selain itu, dalam film juga diperlihatkan bagaimana parenting etnotheory berperan mulai dari proses kehamilan hingga kelahiran. Di Afrika, pada suku Namibia, ketika seorang perempuan hamil mendekati masa kelahiran, perutnya diusap dengan bubuk berwarna merah (menurut saya mungkin terbuat dari tanah merah yang dihaluskan) dan dicampur dengan minyak khas dari suku tersebut. Mungkin hal tersebut dapat membantu proses kelahiran atau berguna bagi perkembangan bayi nantinya. Di Mongolia, seorang ibu mengusap-usap perut menjelang kelahiran bayinya dan diberika senam dengan iringan musik lembut di klinik guna membantu proses persalinan. Di Jepang dan Amerika Serikat, tidak ada treatmen yang khusus diperlihatkan menjelang kelahiran bayi. Hanya saja di Jepang diperlihatkan bahwa orangtua (ayah dan ibu) bercakap-cakap dan ayah membuat ibu tertawa sambil si ayah tadi belajar bagaimana cara menggendong bayinya, saya rasa apa yang mereka lakukan merupakan hal yang positif menjelang kelahiran bayi pertama.
Perlakuan yang berbeda juga didapatkan oleh bayi ketika bayi tersebut baru lahir. Di Afrika, bayi yang baru lahir dalam kondisi tradisional, dipegang oleh ibunya kemudian dilayang-layangkan di udara dengan posisi ibu masih berbaring dan menatap langsung ke wajah bayi. Setelah itu, bayi Afrika tersebut disusui oleh ibunya, saya menganggap bahwa hal ini merupakan perilaku ibu untuk berusaha membuat nyaman bayinya. Bayi yang baru lahir harus dibuat nyaman dengan didekatkan dengan ibunya karena akan berpengaruh terhadap tangisan bayi (Santrock, 2010). Bayi Mongolia yang baru lahir diletakkan tepat di samping ibunya dalam satu ruangan yang sama di klinik bersalin, hal ini berkaitan dengan perawatan pascalahir yang disampaikan Elizabeth B. Hurlock (1999), meletakkan tempat tidur bayi di sebelah tempat tidur ibu sehingga ibu dapat memenuhi kebutuhan perawatan bayinya merupakan hal yang sangat penting dalam menangani masalah tangisan pada bayi. Hasil penelitian M. Greenberg, I. Rosenberg, dan J. Lind (dalam Hurlock, 1999) menunjukkan bahwa ibu yang memiliki pengalaman sekamar dengan bayinya di rumah sakit lebih mampu menafsirkan arti tangis bayi dibandingkan ibu yang dirawat terpisah dengan bayinya. Lebih jauh, saya berpendapat bahwa ketika ibu mampu memahami arti tangis dari bayinya, hal tersebut merupakan modal dasar untuk membuka komunikasi yang lebih luas dengan bayi, bahkan mampu dijadikan dasar untuk melatih kemampuan berbahasa anak di kemudian hari. Sedangkan di Jepang, bayi yang baru lahir, kedua telapak kakinya ditulis karakter kanji (huruf Jepang) dengan tinta merah oleh ayahnya, hal ini mungkin termasuk suatu budaya di Jepang dan saya rasa menuliskan karakter kanji pada telapak kaki bayi yang baru lahir merupakan simbolisasi dari parenting etnotheory ketika bayi lahir. Di San Fransisco, bayi yang baru lahir dibantu dengan peralatan medis guna memantau kondisi fisik dari bayi tersebut, selanjutnya bayi di San Fransisco digendong sambil ditatap wajahnya oleh orang yang menggendong, mungkin ibunya atau perawat di rumah sakit. Namun, hal yang menarik perhatian saya pada bayi di San Fransisco adalah ketika bayi digendong dan wajahnya ditatap, bayi tersebut seakan tersenyum yang mengindikasikan bahwa bayi merasa nyaman dalam gendongan. Menurut Jovita Maria Ferliana, psikolog anak dan keluarga dari Rumah Sakit Royal Taruma, Jakarta, seperti yang dikutip dalam majalah Parents Indonesia Edisi Oktober 2014, menyatakan bayi seringkali tersenyum ketika berbaring atau dalam tidurnya, ini menandakan bahwa ia merasa cukup nyaman dengan lingkungan sekitarnya. Jovita juga menambahkan apabila bayi merasa nyaman dalam gendongan ibu atau orang terdekatnya maka hal tersebut akan menjadi modal bagi bayi untuk merespon suara dari ibu maupun orang lain, dan sekaligus menjadi dasar untuk perkembangan kemampuan berbahasa.
Selanjutnya, film “Babies” menampilkan tentang perawatan dan pengasuhan yang diberikan pada bayi di lingkungan dan budaya masing-masing dari empat tempat yang berbeda. Bayi Jepang, yang bernama Mari, didudukan diatas selimut dan ditepuk-tebuk punggungnya oleh ibu, serta disana juga ada ayah yang menemani. Saya rasa hal tersebut mungkin dilakukan untuk menghilangkan cegukan Mari yang pada scene sebelumnya telah disusui oleh ibunya. Kedekatan yang ditunjukkan oleh keluarga Mari merupakan suatu hal positif dalam membangun kedekatan antara orangtua, khususnya ibu dengan bayi. Elianor E. Maccoby dan John A. Martin (1976) mengatakan bahwa periode awal ketika bayi baru lahir merupakan suatu periode kritis untuk membangun kedekatan antara orangtua dengan bayi hal ini terutama dapat terwujud dengan adanya sentuhan-sentuhan lembut yang diberikan oleh orangtua untuk membuat nyaman bayinya. Berkaitan dengan pendapat dari  Elianor E. Maccoby dan John A. Martin (1976) maka, perilaku ibu Mari yang menepuk-nepuk punggung Mari dengan lembut untuk menghilangkan cegukannya dapat dikatakan sebagai suatu usaha untuk membuat nyaman Mari, sehingga nantinya rasa nyaman ini akan membuat Mari lebih merespon terhadap sekelilingnya. Sementara itu, bayi Mongol, yang bernama Bayar, diajak bicara oleh ibunya dalam bahasa lokal dengan nada yang khas sambil manatap Bayar yang terbaring di tempat tidur, dan sepertinya Bayar seakan-akan merespon perkataan ibunya melalui bahasanya sendiri, yaitu “bahasa bayi”. Saya sangat menyukai metode berbicara kepada bayi seperti yang dilakukan ibu Bayar, karena menurut psikolog anak dan keluarga, Jovita Maria Ferliana (seperti yang ditulis dalam Parents Indonesia Edisi Oktober 2014), bayi memang sudah bisa mengaitkan apa yang didengarnya dengan apa yang harus dilakukan dengan mulutnya. Cara ibu berbicara kepada bayi dengan penuh irama (motherese atau cara bicara ibu yang khas kepada bayinya) akan membuat bayi terpaku melihat wajah ibu dan dia mulai memahami arti kata-kata dan kalimat yang diucapkan ibunya. Sedangkan, bayi Afrika, yang bernama Ponijao disusui oleh ibunya sambil si ibu bercakap-cakap dan makan dengan ibu lain yang juga menyusui bayinya. Seperti disampaikan oleh Jovita, menurut saya posisi ketika bayi menikmati asi dari ibu merupakan posisi yang nyaman bagi bayi sehingga ketika perasaan nyaman itu dipadukan dengan obrolan ringan dari ibu dengan orang lain disekitarnya, maka bayi juga mendengar dan menangkap kata-kata yang diucapkan oleh ibunya, hal ini berarti bayi juga telah mendapatkan modal bahasa untuk dikembangkan. Ketika Ponijao buang air, ibunya dengan mudahnya membersihkan pantat Ponijoe dengan menggosokkannya ke lutut si ibu lalu baru dibersihkan. Saya rasa hal tersebut mungkin termasuk kedalam etno parenting dari suku Namibia, Afrika untuk menumbuhkan kelekatan antara ibu dengan bayi. Kemudian di belahan bumi lain tampak pemandangan yang sangat jauh berbeda dengan yang ada di Afrika, bayi Amerika yang bernama Hatie, dipangku dan dibacakan buku anak-anak oleh ibunya. Ketika Hatie dimandikan pun, ibunya tetap berbicara dengan nada lembut dan juga menatap wajah Hatie sambil kedua lengannya disatukan dan mengapung-ngapungkan badan Hatie di air. Menurut John W. Santrock (2010), kebiasaan ibu mengapung-ngapungkan bayi dengan kedua tangan saat memandikan bayi dapat membuat bayi merasa nyaman seperti ketika berada dalam kandungan sehingga bayi akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan di luar rahim dan mampu menjalin kedekatan emosi antara bayi dengan ibu. Adanya kebiasaan berupa motherese (ketika ibu berbicara dengan lembut kepada Hatie selagi memandikannya) yang dilakukan oleh ibu Hatie menunjukkan adanya kesamaan cara menstimulasi perkembangan komunikasi bayi dengan yang dilakukan oleh ibu Bayar di Mongolia.
Saya juga merasa ada keunikan tersendiri ketika bayi-bayi dari empat tempat berbeda dengan latar belakang budaya yang berbeda melakukan interaksi dengan lingkungannya. Di Afrika, bayi yang bernama Ponijao lebih leluasa untuk berinteraksi dengan lingkungannya karena Ponijao dibiarkan dengan bebas mengeksplorasi, menjelajah area sekitar, bahkan hingga memasukan benda-benda yang ia temui di tanah ke dalam mulut. Namun, di sisi lain, Ponijao juga sering digendong di punggung oleh ibunya ketika melakukan suatu pekerjaan dan sering terjadi interaksi antara Ponijao dengan si ibu. Hal yang menarik adalah ketika Ponijao berusaha mengikuti irama yang diucapkan ibunya (melakukan imitasi), saya rasa irama tersebut merupakan salah satu bentuk interaksi yang dapat mengawali proses perkembangan bahasa. Hal lain yang menarik adalah ketika Ponijau diajarkan berbicara oleh ibunya dengan mengucapkan kata “mama...”, Ponijao menjawab dengan melakukan babbling (celoteh), yaitu membuat suara yang serupa dengan ibunya, meskipun tidak begitu tepat. Babbling (celoteh) biasanya dilakukan oleh bayi yang berusia 6-7 minggu, bayi mulai membuat suara dalam kondisi nyaman dan secara tidak langsung dengan babbling bayi melatih kematangan organ artikulasinya (Jovita dalam Parents Indonesia, 2014). Jadi dapat dikatakan bahwa ketika babbling, Ponijao juga mengungkapkan perasaan nyamannya saat bersama ibu. Kemudian, bayi Mongolia, Bayar, lebih sering ditinggal di tempat tidur ketika ibunya sedang sibuk. Ketika bisa merangkak, Bayar juga lebih sering bermain di sekitar rumah, meski sekali ditayangkan bahwa orangtua Bayar pernah mengajaknya menghadiri suatu acara tetapi, secara keseluruhan Bayar lebih sering menghabiskan waktunya di rumah, untuk interasinya sendiri, Bayar hanya berinteraksi dengan orangtua dan kakaknya. Saya menangkap bahwa mungkin kemampuan anak untuk bersosialisasi dengan orang lain (selain keluarga) bukanlah menjadi fokus utama dalam masyarakat Mongolia, sehingga Bayar memang lebih sering dibiarkan berada di rumah oleh orangtuanya atau mungkin karena masalah geografis dimana dataran tinggi Mongolia dikelilingin oleh bukit-bukit dan jalanan yang landai sehingga orangtua Bayar jarang mengajaknya bepergian. Pada sisi lain, menurut saya masyarakat Mongolia memang memberi fokus pada perkembangan psikomotorik dari anak, ditunjukkan ketika Bayar dibiarkan dengan bebas merangkak menjelajahi halaman rumah dan berkotor-kotoran, hingga dibiarkan tertidur disebelah hewan-hewan ternak. Penekanan pada perkembangan motorik ini juga saya lihat terjadi pada Ponijao di Afrika, jadi mungkin memang ada kesamaan antara penekanan proses perkembangan pada individu antara suku Namibia di Afrika dengan suku Mongolia yang notabene merupakan masyarakat agrikultur. Pada masyarakat modern di Jepang, Mari, sering menghabiskan waktu dengan jalan-jalan dan bepergian bersama ibunya seperti mengikuti kegiatan bermain dengan ibu-ibu dan bayi-bayi lain dan ketika ibunya sedang sibuk, Mari dititipkan di tempat penitipan bayi. Bagi saya kegiatan Mari bersama ibunya sangat berperan dalam perkembangan sosialisasi di masa depan, karena dengan mengikuti kegiatan bersama dengan ibunya dan bayi-bayi lain, Mari akan memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dan mengenal teman sebayanya dan hal tersebut akan menguatkan motivasi Mari untuk belajar bicara pada usia sekitar 18 bulan nantinya. Pendapat yang saya sampaikan ini juga didukung oleh adanya teori mengenai kondisi yang menimbulkan perbedaan dalam belajar bicara yang disampaikan oleh Elizabeth B. Hurlock (1999), salah satu faktor yang mendorong motivasi untuk belajar bicara pada anak adalah adanya hubungan dengan teman sebaya. Dikatakan bahwa semakin banyak hubungan anak dengan teman sebayanya maka akan semakin besar keinginan anak untuk diterima sebagai anggota kelompok sebaya dan akan semakin menguatkan motivasi anak untuk belajar bicara. Pada perkembangan bicara Mari, menurut saya ibu Mari telah memfasilitasi hubungan teman sebaya yang luas dengan kegiatan-kegiatan kelompok yang dilakukan bersama. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Amerika, Hatie, semenjak dini telah ditanamkan kebiasaan membaca oleh orangtuanya. Ibu dan ayah Hatie sering membacakan Hatie buku anak-anak, hal ini diperlihatkan pada scene ketika ibu Hatie membacakan buku cerita bergambar sambil menempatkan Hatie di pangkuannya dan scene ketika ayah Hatie membacakan buku tentang hewan kepada Hatie di tempat tidur lalu ayah dan ibu Hatie meniru gerakan gajah untuk mengenalkan hewan tersebut kepada Hatie. Hatie dan ibunya juga mengunjungi tempat bermain untuk melatih gerakan-gerakan otot Hatie dan juga bernyanyi suatu nyanyian bersama dengan ibunya. Perilaku ibu-ibu di masyarakat industrial-modern yang sering mengajak bayinya jalan-jalan keluar rumah dan mengikuti berbagai kegiatan dengan teman sebaya seperti yang dilakukan oleh ibu Mari dan ibu Hatie ternyata merupakan salah satu cara memberikan stimulasi agar bayi memiliki kemapanan dalam berkomunikasi dan akan berdampak positif dalam mempercepat perkembangan bahasanya, seperti yang disampaikan oleh Dr. Elisabeth Hutapea, SpA dan Jovita Maria Ferliana, M.Psi dalam Parents Indonesia Edisi Oktober 2014 yang menyatakan ada beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua untuk menstimulasi perkembangan komunikasi bayi, salah satunya adalah mengajak bayi jalan-jalan keluar rumah, karena dengan pergi jalan-jalan keluar rumah, bayi akan bertemu dengan hal-hal baru bahkan orang-orang baru dan memperoleh kosakata baru dari apa yang didengarnya. Orangtua juga dapat mengajarkan kosakata baru berkaitan dengan hal-hal yang dilihat bayi ketika jalan-jalan.
Berdasarkan paparan mengenai review film “Babies”, saya dapat menyimpulkan bahwa keterkaitan mendasar antara interaksi orangtua khususnya ibu, dengan bayinya dalam budaya apapun, merupakan suatu upaya dalam melakukan transmisi kebudayaan pada anak. Interaksi yang saya maksud adalah interaksi yang berkaitan dengan komunikasi ibu dengan bayi yang meliputi motherese (cara berbicara ibu yang khas kepada bayinya), reflective vocalization (tangisan dan senyuman bayi), babbling (celoteh atau bayi mulai membuat suara-suara), dan aktivitas bersama yang dilakukan oleh ibu dengan bayinya. Komunikasi antara ibu dengan bayi akan menjadi modal awal bayi untuk memulai perkembangan bahasanya ketika memasuki usia 18 hingga 24 bulan yang merupakan tahap awal perkembangan bahasa (Santrock, 2010). Alasan saya memberikan penekanan terhadap perkembangan bahasa karena selain merupakan bentuk budaya, bahasa juga berperan dalam mentransmisikan bentuk-bentuk kebudayaan lain kepada anak melalui proses sosialisasi dan enkulturasi, pendapat saya ini diperkuat oleh Ernst Cassirer (dalam Sarlito, 2014) yang menyatakan bahwa bahasa menciptakan budaya dan budaya mempengaruhi bahasa, lebih lanjut Matsumoto dan Juang (dalam Sarlito, 2014) mengatakan bahwa hubungan timbal-balik antara budaya dan bahasa menunjukkan bahwa tidak ada satupun budaya yang dapat dipahami tanpa memahami bahasanya, begitu pula sebaliknya. Jadi, dapat dikatakan bahwa mengoptimalkan perkembangan bahasa pada anak merupakan salah satu tahapan awal untuk menanamkan kebudayaan.

DAFTAR REFERENSI

Berry, John W., et al. (2002). Cross Cultural Psychology: Research and Applications, Second Edition. England: Cambridge University Press

Hurlock, Elizabeth B. (1999). Perkembangan Anak Jilid 1. Diterjemahkan oleh: Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Zarkasih. Jakarta: Erlangga.

Jovita Maria Ferliana dan Elisabeth Hutapea seperti yang ditulis dalam ___.(2014). Saat Bayi Berkomunikasi. Parents Indonesia Edisi Oktober 2014.

Maccoby, Elianor E. and Martin, John A. (1976). Handbook of Child Psychology Volume IV. New York: John Wiley & Sons.

M. Greenberg, I. Rosenberg, and J. Lind seperti yang dikutip dalam Hurlock, Elizabeth B. (1999). Perkembangan Anak Jilid 1. Diterjemahkan oleh: Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Zarkasih. Jakarta: Erlangga.

Santrock, John W. (2010). Life-Span Development, Thirteenth Edition. Dallas: McGraw Hill.

Sarlito W. Sarwono. (2014). Psikologi Lintas Budaya. Jakarta: Rajawali Press.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar