Tampilkan postingan dengan label Science. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Science. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Agustus 2013

Perbedaan Antara Otak Ekstrovert dan Introvert

Sedari dulu para ilmuwan mencoba meneliti bagaimana proses di otak mereka yang ekstrovert dan introvert.

Thinkstock

Mereka yang ekstrovert dan introvert memiliki cara pemrosesan di otak yang berbeda. Hasil penelitian yang dirilis oleh jurnal Frontiers in Human Neuroscience menemukan bahwa mereka yang ekstrovert akan lebih mengasosiasikan rasa bahagia pada lingkungan mereka.
Sedari dulu para ilmuwan mencoba meneliti bagaimana proses di otak mereka yang ekstrovert dan introvert. Peneliti menyimpulkan bahwa mereka yang ekstrovert menyukai pujian dan lebih berfokus pada wajah. Di sisi lain, mereka yang introvert sulit menerima terlalu banyak rangsangan dan lebih memperhatikan detail.
Yu Fu dan Richard Depue, ahli saraf dari Cornell University di New York, melakukan tes kepribadian pada mahasiswa baru. Partisipan mengkonsumsi ritalin, stimulan yang biasanya dipakai untuk menanggulangi gangguan akibat kurang perhatian atau malah hiperaktif (attention-deficit/hyperactivity disorder, atau ADHD). Ritalin merangsang munculnya dopamin yang memegang peran dalam motivasi. Sementara itu pada waktu yang sama partisipan menonton video.
Sesudahnya tim peneliti menguji bagaimana partisipan mengasosiasikan video dan lingkungannya serta hubungannya dengan dopamin yang terangsang Ritalin. Hasilnya efek Ritalin pada sistem dopamine tidak menjadi motivasi bagi mereka yang introvert. Ini berarti bahwa introvert memiliki pemrosesan yang berbeda mengenai apa ganjaran dari lingkungan dengan otak introvert lebih memikirkan apa yang ada dalam pikiran daripada motivasi eksternal. 
Penemuan ini menemukan hubungan antara sifat pribadi pada pemrosesan di sistem saraf manusia.
(Mohamad Takdir, Sumber: intisari-online.com, Huffington Post, http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/08/perbedaan-antara-otak-ekstrovert-dan-introvert)

Sabtu, 03 Agustus 2013

The Social Experiment - The Bystander Effect




This video about an experiment in social psychology-"The Bystander Effect"
conducted by Ngee Ann Polytechnic students for Social Psychology's final assignment.

Rabu, 17 Juli 2013

Sekilas Tentang Otak Manusia (Bagian 3)



OTAK DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERKEMBANGAN PADA FASE DEWASA AWAL DAN DEWASA AKHIR


  • PENGARUH PERKEMBANGAN OTAK BAYI TERHADAP MASALAH PERKEMBANGAN PADA FASE DEWASA AWAL
Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Masa remaja yang ditandai dengan pencarian identitas diri, pada masa dewasa awal, identitas diri ini didapat sedikit-demi sedikit sesuai dengan umur kronologis dan mental age-nya. Berbagai masalah juga muncul dengan bertambahnya umur pada masa dewasa awal. Dewasa awal adalah masa peralihan dari ketergantungan kemasa mandiri, baik dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri, dan pandangan tentang masa depan sudah lebih realistis.
Erickson (dalam Monks, Knoers & Haditono, 2001) mengatakan bahwa seseorang yang digolongkan dalam usia dewasa awal berada dalam tahap hubungan hangat, dekat dan komunikatif dengan atau tidak melibatkan kontak seksual. Bila gagal dalam bentuk keintiman maka ia akan mengalami apa yang disebut isolasi (merasa tersisihkan dari orang lain, kesepian, menyalahkan diri karena berbeda dengan orang lain).
Hurlock (1990) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun samapi kira-kira umur 40 tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif.
Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda (young ) ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock (1995), orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik (physically trantition) transisi secara intelektual (cognitive trantition), serta transisi peran sosial (social role trantition).
Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah masa beralihnya padangan egosentris menjadi sikap yang empati. Pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang peranan penting. Menurut Havighurst (dalam Monks, Knoers & Haditono, 2001) tugas perkembangan dewasa awal adalah menikah atau membangun suatu keluarga, mengelola rumah tangga, mendidik atau mengasuh anak, memikul tangung jawab sebagai warga negara, membuat hubungan dengan suatu kelompok sosial tertentu, dan melakukan suatu pekerjaan. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalin hubungan secara intim dengan lawan jenisnya. Hurlock (1993) dalam hal ini telah mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya.
Dengan bertambahnya usia, semakin bertambahpula masalah-masalah yang menghampiri. Dewasa awal adalah masa transisi, dari remaja yang huru-hara, kemasa yang menuntut tanggung jawab. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang dewasa awal mengalami masalah-masalah dalam perkembangannya. Masalah-masalah itu antara lain:

1)   Penentuan identitas diri ideal vs kekaburan identitas.
Dewasa awal merupakan kelanjutan dari masa remaja. Penemuan identitas diri adalah hal yang harus pada masa ini. Jika masa ini bermasalah, kemungkinan individu akan mengalami kekaburan identitas. Salah satu cara agar pada masa dewasa awal ini, anak dapat menentukan identitas dirinya mengenai siapa dia, bagaimana keyakinannya, seperti apa nilai yang dianutnya, kesemuanya itu dapat ditanamkan sejak sedini mungkin dengan memanfaatkan perkembangan otak pada masa bayi dengan menggunakan metode-metode sederhana seperti mengajarkan anak berdoa dan tentang konsep ketuhanan serta nilai-nilai melalui cerita dongeng.

2)   Kemandirian vs tidak mandiri.
Ketidakmandirian pada fase dewasa awal biasanya diakibatkan oleh pola asuh yang salah ketika ia masih kecil. Menanamkan kebiasaan mandiri pada anak haruslah sedini mungkin. Caranya adalah dengan Orangtua juga harus bersikap positif pada anak, seperti: memuji, memberi semangat atau memberi pelukan hangat sebagai bentuk dukungan terhadap usaha mandiri yang dilakukan anak. Adanya penghargaan atas usaha anak untuk menjadi pribadi mandiri, terlepas dari apakah pada saat itu ia berhasil atau tidak. Dengan tumbuhnya perasaan berharga, anak akan memiliki kepercayaan diri yang sangat dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang selanjutnya. Betapapun kotornya anak pada saat ia mencoba makan sendiri, betapapun tidak rapinya anak pada saat ia mencoba mandi sendiri, betapapun lamanya waktu yang dibutuhkan anak untuk memakai kaus kaki dan memilih sepatu atau baju yang tepat, hendaknya orangtua tetap sabar untuk tidak bereaksi negatif terhadap anak, seperti mencela atau meremehkan anak. Apabila orangtua atau lingkungan bereaksi negatif atau tidak menghargai usaha anak untuk mandiri, maka hal ini akan berdampak negatif pada diri anak, seperti anak bisa tumbuh menjadi seorang yang penakut, tidak berani memikul tanggung jawab, tidak termotivasi untuk mandiri dan cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah.

3)   Sukses meniti jenjang pendidikan dan karir vs gagal menempuh jenjang pendidikan dan karir.
Kesuksesan seseorang dalam pendidikan dan kariernya, semuanya tergantung dari nilai-nilai yang menjadi landasan dalam setiap tindakan orang itu. Sedangkan penanaman nilai-nilai itu harus dimulai sejak sedini mungkin karena nilai-nilai yang ditanamkan sejak usia dini akan menjadi karakter atau sifat bawaan saat anak telah dewasa nantinya. Oleh sebab itu, orang tua harus selalu menanamkan nilai-nilai positif pada anak, agar ia tumbuh menjadi pribadi berkarakter baik pula. Salah satu cara penanaman nilai-nilai positif pada anak adalah dengan memberi contoh konkret pada anak sehingga dapat dilihatnya secara langsung. Anak usia dini, cenderung mencontoh apa yang ia lihatn secara langsung.

4)   Menikah vs tidak menikah (lambat menikah).
Mengambil keputusan untuk menikah atau tidak menikah adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan dewasa awal. Namun, dalam pengambilan keputusan itu banyak orang dewasa yang sering mengalami keraguan tentang memutuskan jalan hidupnya sendiri. Hal inilah yang kemudian menjadi suatu permasalahan yang melibatkan perasaan dan emosi yang berkepanjangan. Dalam pengambilan keputusan, sebenarnya dapat dilatih sejak dini pada anak dengan cara orang tua melibatkan anaknya saat mengambil keputusan. Misalnya, tanyakanlah pendapat anak tentang rencana yang dibuat orang tua untuk berlibur, atau menanyakan pendapat anak saat memilihkan pakaian untuknya. Hal ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak dan anak juga akan merasa bahwa ia dihargai.

5)   Hubungan sosial yang sehat vs menarik diri.
Masalah hubungan sosial pada fase dewasa awal juga merupakan bias dari rasa kurang percaya diri pada anak ketika usia dini. Kiat-kiat yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam membina hubungan sosial dengan teman-teman sebayanya adalah dengan sistem pendidikan di rumah, dimana telah kita ketahui bersama bahwa rumah merupakan sekolah pertama anak, sehingga apapun yang diajarkan oleh orang tua akan terus melekat di otak bawah sadarnya. Selain pembelajaran dirumah, agar anak dapat bersosialisasi dengan baik, ada baiknya bila orang tua mengikutkan anaknya dalam kelompok bermain atau pendidikan anak usia dini sehingga anak dapat berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.

  • PENGARUH PERKEMBANGAN OTAK BAYI TERHADAP MASALAH PERKEMBANGAN PADA FASE DEWASA AKHIR.
Dewasa akhir merupakan periode akhir dalam rentang kehidupan manusia di dunia ini.  Kisaran usia yang ada pada periode ini adalah enam puluh tahun ke atas. Pada periode ini terjadi penurunan atau kemunduran yang disebabkan oleh faktor fisik dan psikologis.
Permasalahan psikologis yang harus dihadapi pada fase dewasa akhir ini lebih berkaitan dengan penyesuaian diri terhadap kematian teman hidup, serta kesiapan diri untuk menghadapi kematian.

1)   Penyesuaian diri terhadap kematian teman hidup.
Pada fase dewasa akhir, hal yang biasanya membebani pikiran manusia adalah rasa kesepian akibat kematian dari teman hidup atau pasangan hidup. Sehingga seringkali mereka cenderung memilih untuk menjauh dari keramaian dan menyendiri mengingat kenangan-kenangan yang dilalui bersama pasangan hidupnya. Kesiapan seorang untuk menyesuaikan diri terhadap kematian pasangan hidup, biasanya diperoleh dari pemahaman dan penanaman tentang nilai-nilai dari kehidupan yang diperoleh dari kedua orang tuanya ketika kecil. Jika orang tua telah menanamkan nilai-nilai kehidupan seperti nilai keagamaan kepada anaknya sedini mungkin, maka pada fase dewasa akhir, ia akan dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap kematian pasangan hidup karena dalam agama, kematian merupakan kodrat alam bagi makhluk hidup ciptaan Tuhan.

2)   Kesiapan diri untuk menghadapi kematian.
Erich Fromm (1955) mengatakan bahwa manusia merupakan satu-satunya hewan yang tahu bahwa mereka harus mati. Pengetahuan tentang kematian yang tidak dapat dielakkan memberi kesempatan pada kita untuk membangun prioritas dan struktur waktu secara tepat. Saat kita bertambah umur, prioritas dan struktur berubah, tertuju pada keterbatasan masa depan. Nilai-nilai yang memfokuskan pada pentingnya penggunaan waktu juga berubah. Sebagai contoh, ketika ditanya bagaimana mereka menghabiskan waktu 6 bulan tersisa dalam hidupnya, orang-orang pada fase dewasa awal akan menggambarkan aktivitas seperti bepergian dan menyelesaikan sesuatu yang belum terselesaikan, sedangkan orang-orang dewasa akhir akan menggambarkan aktivitas yang lebih terfokus pada dirinya sendiri, kontemplasi dan meditasi. Seperti penjelasan yang telah disebutkan sebelumnya tentang penyesuaian diri terhadap kematian teman hidup, kesiapan seseorang dalam penghadapi kematiannya sendiri pun juga dipengaruhi oleh pemahaman nilai-nilai keagamaan yang ditanamkan sejak usia dini. Semakin orang itu paham tentang agamanya, maka semakin siap ia menghadapi kematiannya karena menganggap itu adalah kodratnya sebagai makhluk ciptaan tuhan. Meskipun dalam beberapa hal, Kebanyakan peneliti percaya bahwa bayi tidak memiliki konsep dasar tentang kematian. Namun, karena bayi mengembangkan keterkaitan dengan pengasuhnya, mereka dapat mengalami perasaan kehilangan atau pemisahan serta kecemasan yang menyertainya. Tapi anak-anak tidak memahami waktu sebagaimana orang dewasa. Bahkan perpisahan yang singkat mungkin dialami sebagai pepisahan total. Bagi kebanyakan bayi, kedatangan pengasuh kembali akan memberikan suatu kontinuitas eksistensi dan hal ini akan mereduksi kecemasan. Kita sangat sedikit mengetahui pengalaman aktual bayi tentang kehilangan walaupun kehilangan orang tua, terutama jika pengasuh tidak digantikan, yang dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan bayi. Anak usia 3-5 tahun memiliki sedikit ide bahkan tidak sama sekali mengenai apa yang dimaksud dengan kematian. Mereka sering kali bingung antara mati dengan tidur, dan bertanya dengan keheranan, “Mengapa ini tidak bergerak?” Diusia prasekolah, anak-anak jarang kaget dengan pemandangan seekor binatang yang mati atau dari cerita bahwa seseorang telah mati. Mereka percaya bahwa orang yang mati dapat menjadi hidup kembali secara spontan karena adanya hal yang magis atau dengan memberi mereka makan atau perawatan medis. Anak-anak sering kali percaya bahwa hanya orang-orang yang ingin mati, atau mereka yang jahat atau yang kurang hati-hati, yang benar-benar mati. Mereka mungkin juga menyalahkan diri mereka dan mengungkapkan alasan yang tidak logis bahwa peristiwa itu mungkin terjadi karena tidak patuh terhadap orang yang mati. Kadang-kadang dimasa kanak-kanak tengah dan akhir, konsep yang tidak logis mengenai kematian yang lambat laun berkembang hingga diperoleh suatu persepsi kematian yang lebih realistis. Dalam satu penelitian awal mengenai persepsi kematian pada seorang anak, usia 3-5 tahun menolak adanya kematian. Anak usia 6-9 tahun percaya bahwa kematian itu ada, tetapi hanya dialami oleh beberapa orang. Dan anak usia 9 tahun keatas akhirnya mengenali kematian dan universalitasnya. Kebanyakan ahli psikologi percaya bahwa kejujuran merupakan strategi terbaik dalam mendiskusikan kematian dengan anak-anak. “Mempermalukan” konsep kematian sebagai hal yang tidak pantas disebutkan, merupakan strategi yang tidak sesuai, walaupun kebanyakan dari kita masih tumbuh dalam suatu masyarakat dimana kematian sangat jarang didiskusikan. Dalam suatu penelitian, peneliti berusaha menilai sikap 30.000 orang usia dewasa awal terhadap kematian. Hasilnya, lebih dari 30% berkata bahwa mereka tidak dapat mengingat kembali diskusi mengenai kematian selama mereka kanak-kanak; dengan jumlah yang sama, yang lain mengatakan bahwa, meskipun kematian disiskusikan, namun diskussinya berlangsung dalam suasana yang tidak nyaman. Hampir setiap 1 dari 2 responden berkata bahwa kematian kakek atau neneknya merupakan kematian pertama kali yang mereka hadapi. Namun, setidaknya dengan berkata jujur terhadap anak tentang konsep kematian ketika anak menghadapi kemtian kakek atau neneknya merupakan suatu upaya positif untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan yang universal kepada anak sehingga nantinya ketika ia dewasa, ia akan menerima kodratnya sebagai ciptaan Tuhan dan harus menghadapi kematian.

 
Sumber:
Monks, Knoers, Haditono  (2001). Psikologi Perkembangan. Yogjakarta: Gajah Mada University Press.
Santrock, John W (1995). Life Span Development. Jakarta: Erlangga.
Qalbinur. Periodesasi Perkembangan Masa Dewasa Awal. http//qalbinur.wordpress.

Selasa, 16 Juli 2013

Sekilas Tentang Otak Manusia (Bagian 2)


PERKEMBANGAN OTAK MANUSIA
DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEDEWASAAN


A.      PERKEMBANGAN EMBRIONIK OTAK MANUSIA
Sumber Gambar: Campbell

(a)           Otak pada embrio manusia yang berusia satu bulan, ketiga wilayah utama otak: otak depan, otak tengah, dan otak belakang menjadi jelas terlihat selama bulan pertama kandungan.
(b)           Setelah lima minggu, lima wilayah telah terdiferensiasi, yaitu telensefalon dan diensefalon dari otak depan, mesensefalon dari otak tengah, serta metensefalon dan mielensefalon dari otak belakang.
(c)           Setelah tiga bulan, embrio manusia memiliki pusat-pusat utama otak yang ditemukan pada orang dewasa.
Dengan melihat fase-fase perkembangan embrionik otak, maka dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa otak janin yang berada dalam kandungan selama tiga bulan, telah memiliki struktur-struktur pokok yang sama seperti pada orang dewasa. Dan ketika fase pranatal, otak janin sesungguhnya telah mulai untuk bekerja dan menghasilkan perilaku bawaan pada bayi. Hal itu dipengaruhi oleh lingkungan dan kondisi emosi sang ibu. Jadi, seorang wanita hamil selalu dianjurkan untuk tenang dan berpikir damai, mendengarkan alunan musik religius, serta musik-musik yang indah (efek Mozart) karena perilaku bawaan bayi sangat dipengaruhi oleh masa-masa pranatal.

B.       CARA KERJA OTAK BAYI DAN PERKEMBANGANNYA
Otak bayi bekerja cepat, mengumpulkan informasi, menyusunnya, memunculkan teori tentang dunia di sekitarnya dan terus-menerus menguji teori-teori itu. Salah satu kemampuan yang paling kompleks yang dipelajari bayi adalah bahasa, tampaknya bayi belajar bahasa lebih cepat dari orang dewasa. Dalam suatu percobaan terkenal, Psikolog Andrew Meltzoff membungkuk di depan bayi dan menjulurkan lidahnya. Bayi itu sejenak ragu, lalu menjulurkan lidahnya juga. Percobaan Meltzoff, yang dilakukan berkali-kali terhadap bayi berumur 36 jam, menunjukkan bahwa manusia lahir dengan kemampuan untuk belajar dari manusia lainnya. Otak bayi terprogram dengan pemahaman bahwa mereka (bayi) merasa seperti lelaki yang membungkuk ke arahnya. Tanpa menatap ke cermin bayi tahu bahwa mereka punya mulut dan lidah seperti lelaki itu, dan tahu bagaimana menggunakannya untuk meniru.
Bayi lahir dengan sebagian besar neuron yang tetap ada hingga mereka dewasa, tapi kebanyakan neuron itu belum saling terhubung. Setiap pengalaman membentuk koneksi baru antarneuron, yang disebut sinapsis, memungkinkan bayi untuk berpikir dan merasa, mendengar, melihat, dan mengingat. Ketika bayi mengalami sesuatu lebih dari sekali atau saat mengetahui beberapa pengalaman berbeda saling terkait, sinapsis berkembang lebih permanen. Pada usia dua atau tiga tahun, bayi punya lebih dari 15.000 koneksi untuk setiap neuron dalam otak. Dalam kondisi ini, otak memulai serangkaian proses pembersihan untuk mengurangi jumlah koneksi. Yang tidak terpakai, menghilang saat otak memprogram ulang dirinya di setiap tahap perkembangan.
Pada usia tiga sampai sepuluh tahun, otak terus berkembang menghasilkan sel-sel baru dan lebih banyak koneksi serta mengurangi jumlahnya sesuai yang dibutuhkan. Sekitar umur sepuluh tahun, terjadi perubahan besar-besaran. Jumlah sel bertambah dengan cepat, koneksi yang kuat semakin kuat, dan yang lemah semakin menghilang.
Saat berumur delapan belas tahun, koneksi dalam otak berkurang menjadi 500 triliun (setengah dari yang dimiliki ketika umur tiga tahun). Otak adalah pusat energi, lebih handal dari sebelumnya, tapi kurang cepat menangkap konsep baru, tidak lagi seperti otak batita. Pada masa remaja akhir dan awal pertengahan dua puluhan, otak terus berubah. Area yang berpikir dan merasa adalah yang paling banyak berubah seiring bertambahnya kedewasaan secara emosional dan intelektual.
Otak orang dewasa tidak berhenti berubah, tapi tidak berkembang secepat saat masa kanak-kanak. Pengalaman-pengalaman hidup memperkuat beberapa bagian otak dan memangkas bagian lainnya. Pada usia senja, otak sedikit menyusut dan menjadi lebih ringan daripada otak orang dewasa awal. 

C.  PENGARUH PERKEMBANGAN OTAK BAYI TERHADAP KONDISI PSIKOLOGIS ORANG DEWASA.
Kondisi psikologis adalah kondisi karakteristik psikofisik manusia sebagai individu yang dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku dalam interaksinya dengan lingkungan (Elizabeth B. Hurlock).  Perilaku merupakan manifestasi dari ciri-ciri kehidupan baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Perilaku manusia terdiri dari tiga aspek yaitu kognitif (pemahaman), afektif (perasaan), dan psikomotorik (perilaku).
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, otak bayi bekerja dengan cepat, kemudian pada fase dewasa, otak pun masih terus berubah namun perkembangannya tidak secepat otak bayi. Hal tersebut disebabkan adanya perubahan besar-besaran pada fase remaja dimana koneksi sinapsis di dalam otak berkurang menjadi setengah dari jumlah koneksi sinapsis dibandingkan ketika fase bayi. Dengan demikian, periode bayi merupakan periode belajar yang paling efektif dalam penanaman nilai-nilai moral serta spiritual, selain juga nilai-nilai intelektual. Hal tersebut akan mampu membentuk kondisi psikologis yang stabil ketika bayi  mulai tubuh hingga dewasa.
Masa dewasa adalah masa yang sangat panjang (20-60 tahun keatas), dimana sumber potensi dan kemampuan bertumpu pada usia ini. Masa ini adalah peralihan dari masa remaja yang masih dalam ketergantungan menuju masa dewasa, yang menuntut kemandirian dan diujung fase ini adalah fase dewasa akhir, dimana kemampuan sedikit demi sedikit akan berkurang. Sehingga masa dewasa awal adalah masa yang paling penting dalam hidup seseorang dalam masa penitian karir atau sumber penghasilan yang tetap. Masa ini juga adalah masa dimana kematangan emosi memegang peranan penting. Seseorang yang ada pada masa ini, harus bisa menempatkan dirinya pada situasi yang berbeda; problem rumah tangga, masalah pekerjaan, pengasuhan anak, hidup berkeluarga, menjadi warga masyarakat, pemimpin, serta berperan sebagai suami atau istri yang membutuhkan kestabilan emosi yang baik. Dewasa akhir merupakan periode akhir dalam rentang kehidupan manusia di dunia ini.  Kisaran usia yang ada pada periode ini adalah enam puluh tahun ke atas. Pada periode ini terjadi penurunan atau kemunduran yang disebabkan oleh faktor fisik dan psikologis.
Satu hal yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan masa dewasa ini adalah dengan memberikan penanaman nilai-nilai yang meliputi IQ, EQ, dan SQ yang telah dilatih oleh orang tua sedini mungkin kepada anaknya. Dengan memanfaatkan celah dimana perkembangan otak yang sangat cepat terjadi pada masa batita, para orang tua dapat belajar mendidik anaknya dengan pendidikan karakter seperti pengenalan terhadap norma-norma dan nilai-nilai melalui cara-cara yang sederhana misalkan mencium tangan orang tua, belajar memberi salam, serta berperilaku hidup bersih. Dengan demikian, kebiasaan-kebiasaan yang diajarkan sejak batita itu akan terus dipegang sebagai prinsip hidup oleh anak hingga dewasa.

Sumber:
Atkinson, Rita L dkk (2010). Pengantar Psikologi, Jilid 1. Tangerang: Interkasara.
Campbell, Neil A dkk (2004). Biologi, Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Monks, F. J dkk  (2001). Psikologi Perkembangan. Yogjakarta: Gajah Mada University Press.
Santrock, John W (1995). Life Span Development. Jakarta: Erlangga.
Simpson, Kathleen ( _).Otak:Bagian dalam Ruang Kontrol Tubuh Anda._:National Geographic.
Sobur, Alex (2011). Psikologi Umum. Bandung:Pustaka Setia.